Sunday, April 21, 2024
HomeBeritaData WHO Ungkap Umur Masyarakat Indonesia Makin Pendek

Data WHO Ungkap Umur Masyarakat Indonesia Makin Pendek


Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mengungkapkan bahwa dalam kurang lebih satu dekade, umur harapan hidup (UHH) masyarakat Indonesia mengalami penurunan.

Berdasarkan data Global Health Observatory Data Repository dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), usia masyarakat Indonesia pada 2022 semakin pendek bila dibandingkan dengan 2010, yakni menjadi 67,6 persen dari sebelumnya 68,5 persen. Jika mengacu data WHO tersebut, maka rata-rata usia masyarakat Indonesia pada 2022 adalah 67,6 tahun alias menurun sebanyak 0,9 tahun dari 2010.

Kemenkes RI mengungkapkan bahwa ada beberapa alasan kasus kematian dini masyarakat Indonesia. Sebagian besar penyebab di antaranya adalah kasus yang dapat dicegah.

Menurut data Kemenkes RI yang dihimpun dari Global Burden of Diseases, setidaknya ada 10 penyebab menurunnya usia harapan hidup manusia dari masing-masing kategori usia, yakni bayi dan balita, anak-anak, remaja 1, remaja 2, usia produktif 1, usia produktif 2, dan lanjut usia (lansia).

“Kami sudah memetakan masalah-masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat Indonesia dalam setiap fase kehidupannya menurut peringkat banyaknya masalah tersebut,” ujar Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, Maria Endang Sumiwi, Jumat (10/11/2023).

“Masalah ini kita hitung berdasarkan angka kematiannya, kemudian berdasarkan jumlah hari yang hilang karena tidak produktif atau karena kematian yang kita sebut sebagai YLD,” lanjutnya.

Menurut data tersebut, peringkat pertama penyebab kasus kematian pada bayi dan balita adalah kelainan maternal dan neonatal.

Menurut Endang, kelainan maternal dan neonatal meliputi kasus bayi yang lahir dengan ukuran badan kecil, bayi yang lahir dengan berat badan rendah, dan asfiksia atau kadar oksigen dalam tubuh berkurang.

“Kemudian yang kedua adalah defisiensi nutrisi, masalah-masalah yang berkaitan dengan gizi, seperti stunting, wasting, ada underweight. Lalu yang ketiga adalah penyakit kulit dan subkutan” papar Endang.

Lalu, penyebab kematian keempat pada kategori usia bayi dan balita adalah penyakit tidak menular (PTM) lainnya, diikuti dengan infeksi enterik yang menduduki posisi kelima.

Berbeda dengan usia bayi dan balita, infeksi enterik justru menjadi penyebab nomor satu kasus kematian pada usia anak-anak menurut data Kemenkes RI. Infeksi enterik adalah infeksi di saluran pencernaan, terutama pada usus halus dan usus besar akibat parasit yang masuk melalui makanan dan minuman terkontaminasi.

Menurut Endang, sebagian besar kasus penyebab kematian yang tidak disengaja, seperti cedera tidak disengaja, cedera transportasi, hingga masalah kesehatan mental mulai terjadi pada kategori usia anak-anak dan berlanjut hingga lansia.

Berdasarkan data yang sama, masalah kesehatan mental menduduki peringkat tiga besar penyebab kasus kemaian pada kategori usia remaja 1, remaja 2, dan usia produktif 1.

“Lalu usia produktif atau usia dewasa sampai dengan lansia didominasi oleh masalah-masalah jantung, stroke, masalah otot dan rangka, mental health, neoplasma atau kanker, dan juga penyakit organ indra pada lansia,” jelas Endang.

“Seharusnya masyarakat tidak perlu terbebani dengan sangat tinggi oleh masalah-masalah kesehatan ini,” ujarnya.

Sumber: CNBC Indonesia

RELATED ARTICLES

TRANSLATE

Most Popular