Wednesday, April 17, 2024
HomeBudayaKehausan di Sekitar Mahakam

Kehausan di Sekitar Mahakam


Sekelompok pemuda mencoba menjawab pertanyaan di lingkaran mereka: kesusastraan di Kalimantan Timur setelah Korrie Layun Rampan berpulang, lalu apa?

Tak ada beda antara sungai Mahakam dan jalan raya.

Kita sama-sama pernah naik perahu di atasnya.

Tak ada beda antara tambang baru bara dengan jalan raya.

Kita pernah sama-sama dengar, nyaring bunyi gelodaknya!.

Mungkin itulah gambaran paling umum, atau bahkan yang paling inti, bagi sejumlah orang yang pernah atau tinggal di sekitar Sungai Mahakam. Di kota yang dilintasi aliran sungai besar ini, air bisa menggenang di sejumlah titik jalanan sekalipun tak ada hujan; orang berperahu di gang yang tergenang banjir; bising alat berat pembangunan dan tambang yang terdengar di perairan dan daratan.

Penggalan puisi karya Kholif Mundzir Aldry itu terarsip dalam Cermin Lain di Balik Pintu Lamin: Wajah Terkini Puisi Kalimantan Timur. Buku itu memuat puisi 38 orang, satu di antaranya sudah meninggal, dengan tema Kalimantan Timur dalam makna seluas-luasnya. Setelah halaman judul, kita akan menemukan sebuah kotak kecil di bawah halaman, isinya ”Buku ini bersifat nonkomersil. Isi buku ini bisa digandakan atau diperbanyak untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan bersifat nonkomersil dengan seizin penulis”.

Kenapa puisi orang-orang di Kalimantan Timur mesti diarsipkan dalam sebuah buku tanpa dijualbelikan?

Semua bermula dari obrolan tiga orang yang belum lama kenal di tepi Sungai Karang Mumus, Kota Samarinda. Dadang Ari Murtono, penyair yang baru menetap beberapa minggu di Samarinda, mengajukan sebuah pertanyaan tentang kesusastraan hari ini di Kalimantan Timur kepada dua orang di hadapannya.

Sebab, saat bicara kesusastraan di Kalimantan Timur, yang terbenam di kepalanya—juga dari obrolan-obrolan—nama besar yang menyeruak hampir selalu Korie Layun Rampan, sastrawan sekaligus pengarsip asal Kaltim. Obrolan berlanjut hingga lewat tengah malam dan mereka bersepakat untuk membuat sesuatu untuk menjawab apa pandangan generasi Kaltim saat ini terhadap tempat tinggalnya.

Yang paling mungkin, pikir mereka, adalah membuat panggilan terbuka untuk mengumpulkan puisi. Targetnya, semua orang yang tinggal di Kaltim dan pernah bersinggungan dengan provinsi ini, sekalipun sudah tidak menetap di Kaltim. Karya tersebut akan dibukukan dengan kerja kolektif dan pembiayaan sukarela.

”Bagaimanapun, karya sastra itu semacam suara zaman. Pandangan orang terhadap suatu hal pada suatu masa,” ujar Dadang saat kami temui di Samarinda, Jumat (10/3/2023).

Mereka membagi tugas. Dadang membuat tulisan pendek tentang panggilan terbuka; Tantra Alimi (37) mencari orang-orang yang ingin membantu pendanaan, dan Novan Leany (25) bertugas mengurasi karya yang masuk. Selanjutnya, Novan dibantu oleh esais asal Kutai Kartanegara Chai Siswandi.

Sampai akhir 2022, ratusan puisi terkumpul dan diseleksi oleh Novan dan Chai. Hasilnya, 86 puisi dari 38 penulis disepakati keduanya untuk dibukukan. Para penyair—jika bisa disebut demikian—itu berusia maksimal 35 tahun. Mereka adalah pelajar SMA, pekerja, mahasiswa, dan dari latar belakang lain.

Para inisiator kemudian mencetak kumpulan puisi itu menjadi sebuah buku tanpa penerbit dan tanpa embel-embel nama kelompok apa pun. Seolah mereka ingin bicara bahwa ini kerja banyak orang dan gagasan dalam bentuk buku tak selalu memerlukan ISBN dan penerbit. Gagasan dilihat dan dibaca sebagai gagasan. Bukunya bersampul merah dengan ilustrasi siluet hitam. Mereka mencetak buku tersebut sebanyak 75 eksemplar dengan biaya sekitar Rp 1,2 juta.

Tantra mendapat uang Rp 2,5 juta dari beberapa kenalannya untuk menggelar diskusi buku, konsumsi peserta diskusi, dan biaya cetak spanduk. Para pemberi dana tak mau disebutkan namanya. ”Mereka hanya ingin mendapat satu eksemplar buku. Kami juga membuat bingkisan untuk orang-orang baik itu,” kata Tantra.

Diskusi buku Cermin Lain di Balik Pintu Lamin didiskusikan pada 4 Februari 2023 di sebuah kedai kopi di Samarinda. Mereka yang semula menyiapkan 30-an kursi meski kerepotan lantaran pengunjung diskusi membeludak menjadi sekitar 130 orang. Beberapa orangtua mahasiswa turut hadir. Ada penyair yang tak bisa hadir, kemudian orangtuanya melakukan video call agar sang anak tetap bisa mengikuti diskusi peluncuran buku tersebut.

Animo yang besar itu, menurut Jumansyah (31), lantaran banyak komunitas dan individu yang turut mendukung terbitnya antologi puisi ”patungan” itu. Jo, sapaan akrabnya, merupakan Ketua Rumah Seniman di Samarinda. Ia yang sudah terbiasa dengan manajemen acara seni dan budaya, tak habis satu tarikan napas untuk menyebutkan pihak-pihak yang mendukung kegiatan.

”Ada komunitas musik Bertemu di Hari Rabu, komunitas Mantra, Teater Bastra Universitas Mulawarman, Sindikat Lebah Berpikir, Ruang Sastra Kaltim. Dan, banyak sekali yang membantu dan berpartisipasi,” ujar Jo.

Kelompok pengunjung yang banyak datang adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Mulawarman. Salah satu dosen, Dahri Dahlan, meminta mahasiswanya untuk belajar langsung di komunitas-komunitas sastra akar rumput. Tujuannya, agar para mahasiswa tak menggali pengetahuan hanya di ruang kelas semata.

Di luar momen itu, sebenarnya orang-orang dari berbagai kalangan di Samarinda punya cara masing-masing untuk menghidupi kesusastraan di Samarinda. Misalnya, mereka membuat lingkaran kecil dan membuat kegiatan bertajuk ”penghakiman puisi”. Mereka membahas buku kumpulan puisi karya Andika Pratama yang karib disapa Dikablek, mahasiswa tingkat akhir di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Mulawarman.

Buku berjudul Memoar Tangan-Tangan Beku itu didiskusikan dan dikritik oleh tujuh orang yang berpartisipasi. Dika sebagai orang yang ”dihakimi” mendapat banyak hal dari diskusi tersebut. Salah satunya mengenai pemilihan diksi yang dinilai tidak mencerminkan kesetaraan antara lelaki dan perempuan: Aku ingin tumbuh dan melihat kau menua dalam genggamanku.

”Frasa ’dalam genggamanku’ itu dikritik, seolah aku sebagai lelaki yang menguasai perempuan. Kritik itu menarik dan melihat sesuatu yang tidak aku sadari,” ujar lelaki 22 tahun itu.

Ada pula kelompok yang menamakan diri Sindikat Lebah Berpikir. Mereka adalah akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum yang juga rutin menggelar diskusi kesusastraan di emperan kampus. Bedah dan kritik karya anggota menjadi salah satu kegiatan mereka sejak 2016.

Penyair yang juga akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, Dahri Dahlan, turut dalam Sindikat Lebah Berpikir. Ia mengatakan, salah satu anggota diskusi, Andria Septy, terpilih sebagai salah satu emerging writer Makassar International Writers Festival (MIWF) 2020–2021. Inisiatif-inisiatif sederhana macam itu, kata Dahri, membantu siapa saja dalam hal teknis sampai menguji gagasan dalam kesusastraan di Samarinda.

Geliat sastra di akar rumput Kota Samarinda itu, yang penuh sesak dengan politik praktis ibu kota provinsi, banjir, dan pembangunan kota, turut mengisi ”kehausan” sejumlah orang untuk melihat cara lain dalam menarasikan pikiran dan gagasan soal lingkungannya. Alih-alih mendapat jawaban apa guna sastra bagi kehidupan, mereka terus mempertanyakannya dan menulis tentang lingkungannya, menulis suara-suara yang mungkin tak terliput.

Source: kompas

RELATED ARTICLES

TRANSLATE

Most Popular