Friday, April 19, 2024
HomeBeritaAmarah Ayatollah Khameini Buntut Kasus Keracunan 5 Ribu Anak Sekolah

Amarah Ayatollah Khameini Buntut Kasus Keracunan 5 Ribu Anak Sekolah


Jakarta – Iran dilanda keracunan massal. Lima ribu anak sekolah menjadi korban keracunan. Peristiwa ini pun membuat pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenel marah.


Peristiwa keracunan massal ini awalnya terjadi di kota suci Qom pada November tahun lalu, sebelum menyebar hingga ke 25 provinsi yang ada di Iran. Belum diketahui penyebab anak sekolah di Iran menjadi korban keracunan massal.

Menurut laporan media pemerintah dan para pejabat Teheran, awalnya tercatat lebih dari 1.000 siswi sekolah keracunan. Namun, kini jumlahnya bertambah hingga lebih dari 5.000 orang.

Insiden ini juga telah memicu kekhawatiran internasional dan seruan Barat untuk penyelidikan independen, terutama karena kasus pertama dilaporkan terjadi segera setelah dimulainya protes nasional yang dipicu oleh kematian wanita Kurdi Iran, Mahsa Amini menyusul penangkapannya karena diduga melanggar aturan jilbab.

Puluhan sekolah telah terkena. Murid-murid mengalami gejala-gejala mulai dari sesak napas hingga mual dan vertigo setelah melaporkan bau “tidak menyenangkan” di lingkungan sekolah. Beberapa pelajar telah dirawat di rumah sakit.

“Dua puluh lima provinsi dan sekitar 230 sekolah telah terkena dampaknya, dan lebih dari 5.000 anak perempuan dan laki-laki diracuni,” Mohammad-Hassan Asafari, anggota komite pencari fakta parlemen, mengatakan kepada kantor berita ISNA pada hari Senin (6/3).

“Berbagai tes sedang dilakukan untuk mengidentifikasi jenis dan penyebab keracunan. Sejauh ini, belum ada informasi spesifik mengenai jenis racun yang digunakan,” imbuhnya.

Pimpinan Iran Marah!
Ayatollah pun meminta sejumlah pejabat mengusut kasus ini. Dia memerintahkan agar pelaku yang menyebabkan anak-anak keracunan tidak diberi ampun.

Dia tegas menyatakan akan memberi hukuman mati kepada pelaku.

“Jika itu terbukti disengaja, para pelaku kejahatan yang tidak termaafkan ini harus dihukum mati,” katanya dilansir Associated Press, Selasa (7/3/2023).

“Tidak akan ada pengampunan untuk mereka,” tegasnya.

RELATED ARTICLES

TRANSLATE

Most Popular