Sunday, May 19, 2024
HomeAsiaBukti China Lebih Bahaya Bagi RI Ketimbang AS, Simak!

Bukti China Lebih Bahaya Bagi RI Ketimbang AS, Simak!

Indonesia harus bersiaga, karena ada kabar tak sedap menghampiri China, yang merupakan negara mitra perdagangan utama.

Negeri Tirai Bambu ini baru saja merilis realisasi data perdagangan. Realisasinya menunjukkan impor China mengalami kontraksi tajam pada bulan April, sementara ekspor naik dengan kecepatan yang lebih lambat.

Artinya, aktivitas perdagangan di China tetap memburuk, meskipun pembatasan Covid-19 telah dicabut. Ini menjadi pertanda permintaan impor dari Indonesia berisiko menurun.

Diketahui, pada April 2023, impor China mengalami kontraksi atau -7,9%. Penurunan ini memperpanjang penurunan yang sudah terjadi dari bulan-bulan sebelumnya sejak Oktober 2022.

Data Bea dan Cukai China juga mencatat ekspor tumbuh 8,5% (yoy). Meskipun tumbuh namun angkanya berkurang dari 14,8% pada Maret lalu.

Ekonom dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan tidak ada pertumbuhan impor dan ekspor akan meningkat sebesar 8%. Artinya, aktivitas perdagangan China lebih buruk dibandingkan ekspektasi.

Bagaimana dampaknya terhadap Indonesia?

Untuk diketahui, China merupakan negara mitra perdagangan Indonesia terbesar. Total perdagangan China dan Indonesia menembus US$ 133,65 miliar pada 2022 atau naik 17,70% dibandingkan 2021.

Ekspor Indonesia ke China mencapai US$ 65,92 miliar sementara impor dari Tiongkok mencapai US$ 67,72 miliar. Baik ekspor dan impor merupakan yang tertinggi dalam sejarah.

Pada Januari-Maret 2023, ekspor ke China tercatat US$ 16,58 miliar atau naik 26,7%. Impor tercatat US$ 15,34 miliar atau turun 3,6%. Sepanjang kuartal I-2023, Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar US$ 1,24 miliar terhadap China.

Ekonomi China yang terus memburuk memberikan dampak negatif terhadap Indonesia yang merupakan mitra dagang utama.

Surplus neraca perdagangan Indonesia diperkirakan mengecil pada April 2023. Surplus menyusut karena melandainya aktivitas perdagangan karena libur Lebaran.

Surplus juga diproyeksi mengecil karena ada penurunan permintaan dari mitra dagang utama Indonesia. Surplus juga melandai karena harga sejumlah harga komoditas melandai.

Oleh sebab itu, strategi harus disiapkan oleh pemerintah salah satunya dengan mencari pasar baru untuk menjual produk Indonesia. Pengalihan tujuan ekspor akan menyasar negara-negara yang ekonominya tetap tumbuh di tengah kondisi sekarang. Semisal India, Asia Selatan, Afrika hingga Timur Tengah atau bahkan bisa fokus ke ASEAN.

SourceCNBC
RELATED ARTICLES

TRANSLATE

Most Popular