Sunday, May 19, 2024
HomeAsiaFenomena Nasib Migran di Tetangga RI, Terbujuk Harapan Palsu

Fenomena Nasib Migran di Tetangga RI, Terbujuk Harapan Palsu

Terdampar tanpa pekerjaan selama berbulan-bulan, ratusan migran asal Asia Selatan di Malaysia kehilangan harapan. Setibanya di Negeri Jiran, mereka malah gagal mendapatkan pekerjaan dengan imbalan biaya ribuan dolar yang dijanjikan agen perekrut.

Di asrama mahasiswa sekitar 40 km (25 mil) dari Kuala Lumpur, sekitar 500 orang migran menghabiskan hari-hari di kamar yang penuh sesak atau kafetaria luar ruangan. Kebanyakan mereka adalah pemuda dari Nepal dan Bangladesh yang tiba sejak Desember 2022.

Mereka mengatakan tiba di negara itu dengan visa kerja tiga bulan dan berharap dapat ditingkatkan menjadi izin kerja, tetapi hal ini tak pernah tercapai. Akibat status hukum mereka tidak jelas, mereka takut untuk meninggalkan tempat tersebut.

Banyak yang mengatakan agen perekrutan mengambil paspor mereka dan terus menjanjikan pekerjaan kepada mereka.

“Kami semua tertekan dan tidak berdaya. Kami telah membayar sejumlah besar untuk pekerjaan itu. Bagaimana saya bisa membayarnya kembali jika saya tidak memiliki pekerjaan?” seorang migran Nepal di asrama mengatakan kepada Reuters, dikutip Kamis (11/5/2023).

Pria berusia 23 tahun yang menolak disebutkan namanya itu menandatangani kontrak dua tahun dengan sebuah perusahaan pembersih Malaysia tetapi belum mulai bekerja.

Dia mengatakan telah meminjam 300.000 rupee Nepal (Rp 33,8 juta) untuk membayar agen untuk pekerjaan itu. Dia dijanjikan gaji bulanan sebesar 2.062 ringgit (Rp 6,8 juta) per bulan.

Semua pekerja di fasilitas tersebut menceritakan kisah serupa: setelah tiba di Malaysia, agen perekrutan memberi tahu mereka bahwa tidak ada pekerjaan yang tersedia dan membawa mereka ke fasilitas akomodasi untuk menunggu.

Mereka kemudian diberi tahu bahwa pada akhirnya mereka akan dipekerjakan tetapi mereka harus membayar makanan mereka sendiri tanpa gaji.

Kementerian Sumber Daya Manusia Malaysia dan departemen tenaga kerja belum buka suara terkait hal ini. Namun kementerian telah berjanji untuk mencarikan pekerjaan bagi kelompok terpisah yang terdiri dari 226 pekerja yang terlantar dari Bangladesh dan Nepal.

Migran membentuk tulang punggung ekonomi Malaysia yang bergantung pada ekspor, yang merupakan sekitar 15% dari 15 juta tenaga kerja negara itu. Perusahaan Malaysia telah menghadapi larangan dari Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir karena penggunaan tenaga kerja paksa.

SourceCNBC
RELATED ARTICLES

TRANSLATE

Most Popular